rano_karno_si_doel_biografi

Sebuah rumah paviliun menempel ke tembok tetangga di sampingnya. Bentuknya kotak memanjang dengan sekat tanpa pintu. Ruang pertama digunakan untuk tamu, sebelahnya tempat tidur untuk 5 orang anak.

Ruang terakhir dijadikan tempat tidur untuk orang tua sekaligus ruang kecil kamar mandi di pojokan.

Rumah kotak memanjang tersebut seperti peron kereta penuh sesak. Berada di kawasan yang pada tahun 1970an disebut Gang Tujuh Gudang Tahi. Gudang Tahi terletak di kawasan Kepu Timur, Gang 7 Dalem, Kemayoran Jakarta.

Lantaran waktu itu banyak warga yang suka buang air besar sembarangan di got, begitu banjir, kotoran manusia meluap. Banyak yang risih apalagi baunya menusuk ke hidung.

“Gang 7 banyak tahi…,” ujar warga yang biasa lewat Gang Kepu. Dari situ, Gang Tujuh kemudian disebut Gang Tahi.

Di lokasi itu, keluarga Sukarno M. Noor seorang aktor terkenal tahun 70-an dan anak-anaknya kebetulan besar dan meniti karir.

Rano Karno, anak ketiga paling kurus yang diminta menjadi pemain bulutangkis oleh bapaknya, malah menjadi aktor dalam lakon Si Doel Anak Betawi tahun 1973. Si Doel sebetulnya tokoh novel karya Aman Datoek Madjoindo berjudul Si Doel Anak Betawi.

Buku Rano Karno Si Doel.jpgSi Doel yang diadaptasi ke dalam film adalah anak kecil yang berusaha membiayai sekolah dengan menabung 3 sen sehari. Ia terpaksa berjualan karena ibunya sakit, bapaknya yang diperankan Benyamin Sueb meninggal karena kecelakaan.

Agar bertahan hidup, Si Doel banting tulang berjualan onde-onde sampai es lilin.

Panggilan Si Doel semakin melekat begitu sinetron Si Doel Anak Sekolahan populer di salah satu stasiun televisi swasta pada 1993-2003. Rano Karno kembali bermain dengan Benyamin Sueb sebagai Sabeni dalam sinetron ini.

Di situ ada peran Mandra, Cornelia Agatha sebagai Sarah, Maudy Koesnady sebagai Zaenab, dan Suti Karno sebagai Atun. Berbagai penghargaan pernah didapat oleh judul sinetron tersebut pada Festival Sinetron Indonesia.

Berkah melimpah datang karena Rano berhasil memerankan sosok Si Doel. Bahkan pada 2003 atas rekomendasi Prof. Emil Salim, Prof. Adhyatma, Prof. Singgih, dan Prof. Murprawoto, Rano menjadi Duta UNICEF.

Pada 2007, karena kepopulerannya Rano mulai meniti karir politik. Setahun kemudian, ia bersama Ismet Iskandar terpilih menjadi Wakil Bupati Tangerang.

Sayangnya, ia tidak sampai tuntas menjabat. Karena pada 2011 ia mengundurkan diri untuk maju sebagai wakil gubernur mendampingi Atut Chosiyah. Lalu di tahun 2013, begitu Rano betul-betul menjadi wakil gubernur, Atut Chosiyah malah ditangkap KPK.

Pro dan kontra bermunculan ketika Rano diangkat jadi Gubernur Banten pada Agustus 2015. Ada yang menilai dirinya tidak pantas menjadi Gubernur Banten karena kurang berpengalaman.

Apalagi, desas-desus Rano menerima mahar dari Atut Chosiyah begitu kencang saat ia mau mendampingi Atut Chosiyah menjadi wakil gubernur.

Lalu, atas saran dari Paguyuban Warga Banten (Puwnten), Rano diberi pesan agar membersihkan aparat yang kotor. Maklum, jatah 30% setiap proyek bagi aparat adalah biasa di Banten.

Untuk memberantas itu, ia kemudian bertemu dan mengenal yang namanya Embay Mulya Syarief, Daenulhay, Jenderal Suryadi, dan Farich Nachril. Pertemuan dilakukan rutin bersama tokoh Banten tersebut untuk mendengarkan saran dan masukan.

“Banten harus zero corruption,” begitu pesan dari Muchtar Mandala. Sampai akhirnya, Rano kemudian menggandeng perwakilan KPK berkantor di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B).

Di samping itu, Rano kemudian membentuk DRD (Dewan Riset Daerah) yang berisikan profesor dan akademisi. 15 orang dia lantik menjadi angota DRD agar setiap tindak-tanduknya berdasarkan riset dan pertimbangan dari akademisi.

Di antara ada nama Prof. Tihami mantan rektor IAIN Banten, Prof. Dodi Nandes sekjen Kemendikbud tahun 2000-an, Drs. Masduki mantan birokrat, dan seorang Ph.D lulusan Jepang Abdul Hamid yang disertasinya tentang “Jawara dan Dinasti di Banten”.

Namun, itu saja belum cukup. Problem insfrastruktur Banten yang buruk juga jadi perhatian Rano begitu menjadi gubernur definitif.

Agar merata pembangunannya, Rano kemudian mendekati Presiden Jokowi. Melalui Perpres Nomor 3 tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Pembangunan Strategis Nasional, 12 proyek nasional kemudian turun ke Banten.

Yang sudah jelas, proyek tol Serang-Panimbang akan dimulai tahun 2017 untuk mendongkrak kawasan tertinggal Pandeglang dan Lebak.

“Ini merupakan permintaan khusus saya ke ‘Mas Joko’ sebagai sarana memutus isolasi daerah selatan,” kata Rano dalam otobiografinya.

Otobiografi berjudul Si Doel ini ditulis langsung oleh Rano Karno. Dalam sebuah kesempatan, suami dari Dewi Indriati ini pernah berkata bahwa kebiasannya sebagai seniman membuat tangannya ingin selalu menulis keadaan di Banten.

Makanya, lahir sebuah curahan hati seorang Rano dalam buku berjudul ‘Si Doel’ setebal 202 halaman terbitan Oktober 2016 oleh Gramedia Pustaka.

Saat ini, Rano kembali mencalonkan sebagai gubernur Banten 2017. Apakah kutukan Sabeni dalam episode Si Doel Anak Sekolahan akan kembali jadi nyata? Sebagaimana Sabeni berujar dalam salah satu episode Si Doel Anak Sekolahan.

“Eh Doel, makanya gua sekolahin lo supaya pinter, jangan bodoh kayak gue. Jangan jadi supir oplet aja lo. Jadi dong gubernur, gitu!” ujar Sabeni.

Sumber

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>