Seren taun

Oleh Rano Karno

Pada mulanya adalah syukur. Selanjutnya adalah, lautan puluhan ribu manusia yang berduyun-duyun datang ke sebuah dusun. Panen yang melimpah ruah, dan suka cita jadi milik bersama. Tanpa batas, banyak hal menyatu dan dipersatukan oleh sebilah keinginan: sujud syukur di haribaan Tuhan. Di hadapan Tuhan, manusia bergelimang harapan. Merapal doa-doa terbaik, mendesiskan ayat-ayat suci yang dikirimkan ke tepi langit. Sebuah kesederhanaan disuguhkan, dan Tuhan mendengar segala. Tanpa kecuali.

Jauh dari kesibukan kota, Cisungsang menjalani hidup dengan sahaja. Kota yang seringkali menepuk dada dengan pongah—pada kenyataannya bergantung pada kehidupan desa-desa yang tak pernah jera menggarap tanah. Di sana, hulu bagi kehidupan kota bermula. Tempat padi ditanam dan disemai. Tempat bagi unggas dan hewan ternak dikembang biak untuk memenuhi lambung mereka yang tinggal di kota-kota. Tempat bagi begitu banyak muasal—tapi sekaligus, sayangnya, dengan mudah dilupakan.

Membangun dari desa mestinya tak lekas-lekas berhenti hanya menjadi sepotong jargon yang dengan gampang melapuk. Demokrasi, sejak mula memang bukan diniatkan hanya untuk mereka yang bekerja di kantor-kantor. Demokrasi juga perkara hak atas kesejahteraan—meminta kesempatan yang sama atas pembangunan. Bagi semua.

Maka, dari Cisungsang kita belajar dan becermin sejadi-jadinya. Tentang apa artinya ikhlas, rendah hati, solidaritas. Di sana, sebuah masyarakat yang guyub menyatukan nasibnya jadi milik bersama. Sebuah leuit besar berdiri tegak, menghimpun yang dipunya dengan sebongkah pesan yang menggetarkan. Sejahtera satu, sejahtera semua. Maka, keserakahan tak lagi mendapat tempat lantaran kesetiaan mereka pada hidup bersama jauh melampaui egoisme dan kepentingan diri sendiri.

Kita berkaca, dan kita boleh malu pada paras sendiri.

Inilah cerita Cisungsang, tempat berdiam bagi banyak warga di atas bukit yang menawan. Mereka mengirimkan pesan, tanpa jerit sumbang di jalan-jalan. Mereka mengajarkan sesuatu yang tak gampang dengan cara yang justru begitu mudah dipaham.

Saya membayangkan apa jadinya kesenjangan dalam tahun-tahun ke depan bila tak ada rencana yang dirumuskan sejak sekarang. Ruas jalan dari Serang hingga Panimbang telah diperjuangkan. Mereka memang tak menuntut. Tapi kita tahu, kota-kota sudah terlalu banyak berutang kepada desa-desa yang sunyi. Banyak kita yang enggan menengok ke desa, kampung, dan dusun—meski padi yang kita makan tumbuh dari jerih payah petani di sana.

Dalam perjalanan ke Cisungsang, mobil saya dihadang puluhan warga di Desa Bayah Barat. Suasana tiba-tiba tegang. Ternyata, puluhan nelayan sengaja menunggu tak kurang dari tiga jam di tepi jalan untuk menemui saya. Saya mendapati senyum sumringah di paras mereka. Sebuah spanduk dibentangkan bertuliskan tangan apa adanya. Sebuah ucapan terima kasih atas jalan-jalan yang sudah rapi—jauh dari yang apa yang pernah ada sebelumnya. Saya tak merasa istimewa di sana. Saya hanya menunaikan kewajiban, saya hanya menjalankan apa yang harus dituntaskan.

Dalam perjalanan kembali, saya terpekur mendalami hati dan diri sendiri. Rakyat yang gemuruh dan menaruh harap. Saya tahu, banyak hal harus dikejar. Tak sempurna, memang. Tapi, ikhtiar yang membabi buta sedikitnya akan mengabarkan. Politik tak selamanya degil dan banal. Politik, sedianya, adalah perjuangan tanpa akhir tentang cita-cita dan keadilan.

Saya, berdiri untuk itu. Di sana.

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>