omr

Oleh H. Rano Karno, S.I.P

Sementara kita mencoba mengajari anak-anak kita semua tentang kehidupan, mereka telah mengajari kita apa itu kehidupan. – Angela Schwindt

Kali ini, sebuah kisah dari masa yang silam melayang-layang ke hari ini. Tajuknya, anak-anak yang dirundung tragedi. Dengan nestapa, dengan keperihan yang membelit.

Sebuah surat kabar yang dikenal radikal menuliskan cerita ini dalam sebuah serial. Lima pekan berturut-turut, dan Eropa pun goncang. A memoir of Robert Blincoe, sepotong karya yang memicu gegar dan kemarahan di permulaan 1828.

Tersebutlah, sebuah senja yang muram menyelimuti Eropa. Musim dingin yang menusuk di sebuah era ketika revolusi industri baru saja menggerayangi banyak daratan. Inilah sebuah masa ketika akumulasi kapital bisa dilakukan sambil menghalalkan banyak perihal. Akal sehat dibuang ke dalam sumur, nurani yang waras terjungkal ke dalam parit berlumpur. Keadilan masuk ke tong sampah—karena atas nama “etika”, gelora penguasaan atas harta dan kapital telah membenamkan empati dan hasrat berbagi.

Di sana terselip biografi Blincoe. Sebuah miniatur kekejaman yang memamerkan parade keganasan para pemilik modal raksasa. Pabrik-pabrik berdiri pesat—dan di dalamnya tersekap anak-anak yang menjalani kerja paksa. Tak ada senyum sumringah. Tak ada waktu untuk bermain dan berbagi tawa. Hanya kemurungan dan cerita duka dari para pengawas yang menggenggam cemeti. Bukan untuk mencambuk kuda. Tapi mencambuk anak-anak di dalam pabrik yang ketahuan malas dan setengah hati bekerja. Blincoe ada di sana, bersama tak kurang dari 80 temannya yang masih berusia 6 dan 7 tahun. Di dalam pabrik, mereka dikunci. Melihat matahari di pagi hari adalah kemewahan yang amat mahal. Mereka diharuskan bekerja hampir 24 jam sehari.

Anak-anak itu tumbuh di bawah bayang-bayang rasa takut. Pada tubuh mereka berhambur penyakit kulit dan koreng menganga sisa sabetan cemeti yang tertinggal. Blincoe terus memberi testimoni: ia bersama teman-temannya tak jarang diterjang kemarahan dari pemilik pabrik yang memiliki keahlian yang sangat tak biasa: menjewer anak-anak itu hingga kuku dari kedua jari yang bengis menembus daging daun telinga.

Masa terus bergegas. Pada setiap tragedi akbar, kita tahu anak-anak selalu menjadi korban. Kita berhak cemas karena setiap zaman seolah menyuguhkan kegarangannya sendiri. Hingga di sebuah waktu, belum genap sepekan yang lalu. Dari Suriah, tragedi itu menemukan gelanggangnya kembali. Anak kecil berusia sangat muda, termangu. Sedih. Terluka.

Namanya Omran. Dan kita bisa dengan lekas menemukan paras perang Suriah di wajahnya yang bingung. Darah dan debu melumuri sebagian besar mukanya yang lugu. Saat ditemukan, ia tak bisa lagi menangis. Barangkali, ia juga sudah tak bisa lagi merasakan sakit. Matanya nanar. Bisa jadi, ia juga belum sepenuhnya mengerti, mengapa peperangan terus diletupkan. Ia gagal mafhum, mengapa kebencian jadi berhala yang dipertuhankan banyak orang. Dari Aleppo, kita dipertontonkan tragedi mengerikan. Omran diketahui selamat—tapi ia kehilangan seorang kakak dalam kekejian yang dipersembahkan di hari itu.

Ribuan sukma melayang. Mereka yang masih hidup, harus pontang-panting cari selamat. Barangkali kita memang benar hidup di sebuah aras peradaban yang canggung dan kikuk. Kinasih dan keluhuran semakin jarang ditemukan. Apa yang disebut digdaya seolah diukur dengan keperkasaan dan keterampilan untuk membuat yang tak sama harus takluk dan dikalahkan. Masokhisme mengepul ke udara lantaran ada banyak orang merasa absah menyulam kebencian untuk disebar. Dan di depan pelupuk, kita menyaksikan segerombolan orang menari-nari di atas bangkai manusia. Terpaksa, kita harus menerima realita: peradaban kita sungguh cemong, berdarah, kumuh, penuh debu.

Ijinkanlah saya tetap bertutur tentang dunia anak yang diperdaya oleh nasib yang tak bersahabat. Saya ingin memeluk mereka. Jauh—ataupun dekat, anak-anak tetaplah sepotong pertanda tentang harapan. Tentang masa depan. Kesedihan ini barangkali sejenis melankolis yang menyusup ke dalam benak.

Tapi, kita juga belajar dan menyimak dari sejarah Nabi yang mulia. Nabi yang welas asih itu membelai anak-anak yang tak berpunya. Lelaki agung itu menggembirakan anak-anak yatim dalam senyum dan pelukan. Ia membiarkan kedua cucunya naik ke atas punggung dan kepala saat sujud di waktu shalat tiba. Nabi membiarkan, tak mengganggu kesenangan dunia anak-anak yang menggemaskan. Nabi kita yang agung pernah mengecam seorang ayah. Ia memiliki 10 anak, tapi tak satupun pernah diciumnya. Baginda yang luhur itu berpesan, “Barang siapa tak merahmati (menyayangi), ia tak akan dirahmati.” Demikian, Bukhari dan Muslim meriwayatkan di suatu kali.

Kebencian telanjur memakan korban di Aleppo.

Sekonyong-konyong, tebersit rindu menyelinap pada satu teladan dari sebuah era yang sangat lampau. Shalahuddin al Ayubi, pria perkasa yang membebaskan Yerusalem di musim panas 1187. Tak ada yang perlu dinistakan, tak ada musuh yang dipaksa menjadi budak belian. Tak ada tempat ibadah yang diporakporandakan, tak ada darah yang sia-sia ditumpahkan. Dunia Barat hingga kini tak pernah habis kehilangan rasa takjub melihat Shalahuddin—seorang lelaki Kurdi yang sahaja. Inilah periode yang dicemburui oleh kita di hari ini. Mengingat, seorang pemimpin memberikan jaminan keselamatan, keamanan, rasa tenang dan damai pada khalayak. Tak peduli kemajemukan itu terserak dan rupa-rupa keyakinan dijalankan di tanah al Quds yang mulia.

Kebencian. Kita ingin menampiknya. Tapi barangkali memang banyak yang tak pernah sungguh-sungguh menolaknya.

Pada sebuah malam yang sunyi, Shalahuddin menyelinap ke dipan anaknya yang hendak lelap. Ia berbisik singkat, “Ingat, Nak. Jangan sekali-kali kau tumpahkan darah. Sebab, darah yang telanjur tepercik, selamanya ia tak akan pernah tertidur.”

Kebencian, jangan dijadikan berhala.

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>