wp-1479915677553.jpg

Namanya Siti Fadilah. Siswi SMP Mathla’ul Anwar di Rangkasbitung, Lebak. Suatu hari, sekitar delapan bulan yang silam ia mengendarai motornya dari rumah menuju sekolah. Siti perlahan menepi menyusuri tikungan dari arah rumahnya di Kampung Nangklak, Desa Jagabaya, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak. Brak!!! Tak diduga. Sekonyong-konyong angkot menyasar motornya hingga Siti terpelanting. Musibah tak terhindar. Apa daya, bencana itu tak bisa ia tepis.

Peristiwa sekitar 8 bulan lalu itu menyisakan luka mendalam. Kedua kakinya patah. Orang tua Siti telah berjuang sekuat tenaga mencari jalan terbaik untuk merawat dan mengobati Siti. Dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas, Siti hanya bisa tergolek lesu di kursi roda. Perlahan kondisinya kian memburuk. Kedua kakinya mengalami pembusukan. Hingga di suatu hari, satu tungkai kakinya terlepas sendiri akibat pembusukan yang terjadi. Kondisi ekonomi yang sulit membuat keluarga hanya merawat Siti di rumah.

Siti tak bisa melanjutkan sekolah. Perlahan ia mengubur semua mimpi, cita-cita, dan harapan. Ia menyaksikan sendiri kakinya remuk dan terus membusuk. Sementara satu tungkai kakinya terputus sendiri, kaki lainnya mengalami situasi serupa dengan luka terbuka yang terus merambat.

Hingga tiba di suatu ketika. Tuhan telah mempertemukan Siti Fadilah dengan Rano Karno pada medio Oktober lalu. Menyaksikan penderitaan Siti dan rasa sakit yang harus dirasakan selama berbilang bulan, Rano serta merta meminta ijin keluarga Siti untuk membawanya ke rumah sakit. Alhasil, kaki kiri Siti diputuskan harus diamputasi. Sementara kaki kanannya mesti ditanam pen.

Rano Karno mengunjungi Siti Fadilah di rumah sakit

Sudah berkali-kali Rano Karno menjenguk ke rumah sakit dan memberi motivasi agar Siti bisa bangkit dari situasi terpuruk. Kepercayaan dirinya mulai kembali tumbuh. Harapan yang semula sirna kini bersemi kembali. Biaya operasi tak lagi menjadi pikiran Siti dan keluarganya. Rano Karno mengambil alih tanggung jawab biaya perawatan selama Siti menjalani operasi di rumah sakit hingga beberapa bulan ke depan Siti menjalani physiotherapy. Termasuk membiayai kehidupan sehari-hari bagi orang tua Siti yang tak bisa bekerja karena ikut menunggu Siti di rumah sakit.
Wahdi, ayah kandung Siti Fadilah, tak henti-hentinya bersyukur kepada Allah. “Dengan keterbatasan kami, alhamdulillah, kami beribu ribu terimakasih. Kami tidak tahu bagaimana membalasnya.” jelas Wahdi.

Dalam satu kunjungannya ke rumah sakit, di hadapan dokter ortophedi yang menangani Siti, Rano meminta ijin pada Wahdi untuk mengangkat Siti sebagai anaknya. Wahdi yang hanya bisa menangis ketika itu tak mampu berkata-kata. Sikap Rano ini mendapat dukungan dari Dewi Indriati, sang isteri, dan kedua anaknya, Raka dan Dea. “Mereka bertiga yang ikut mendorong saya untuk meminta ijin pada keluarga Siti agar Siti menjadi bagian dari keluarga besar kami. Saya ingin merawat Siti Fadilah sebagaimana saya telah merawat Raka dan Dea.” jelas Rano.

Langkah Rano yang acap menjenguk Siti ke rumah sakit bukannya tanpa risiko. Rano yang membiayai operasi dan biaya hidup untuk keluarga Siti selama menjalani operasi justru dipolitisir oleh sementara pihak. Rano menjelaskan, “Anda akan bisa merasakan kebahagiaan yang tak terhingga saat melihat seseorang yang nyaris kehilangan harapan bisa kembali bangkit. Kalau sampai pilihan saya mengangkat Siti sebagai anak harus membawa konsekuensi saya kehilangan kesempatan sebagai calon gubernur, maka biarlah saya kehilangan kesempatan itu. Saya ikhlaskan. Yang penting saya masih diberi kesempatan untuk berbagi kebahagiaan dengan orang-orang di sekitar saya. Biarkanlah ini menjadi ladang ibadah saya, kewajiban fardhu kifayah yang saya panggul di atas pundak saya.”

Sementara Wahdi, ayah Siti, mengaku sedih saat sejumlah pihak mempolitisir langkah Rano membantu operasi dan biaya hidup untuk Siti dan keluarganya. “Pak Rano tidak pernah kampanye kalau ketemu kami. Tidak pernah ngomong soal pemilihan gubernur. Kenapa Pak Rano tidak boleh membantu kami dan tidak boleh mengangkat Siti sebagai anak?”

Setelah beberapa kali Rano menjenguk Siti di rumah sakit sebelum dan pascaoperasi, baru kali ini kunjungannya dipersoalkan sejumlah kalangan. Rano secara terbuka mengaku membantu biaya operasi Siti dan biaya hidup untuk keluarganya. Di banyak kunjungan itu Rano juga kerap membawa buah-buahan untuk Siti dan keluarga. Di ujung wawancara Rano kembali berujar, “Perjuangan meraih kekuasaan adalah perjuangan mewujudkan cita-cita kemanusiaan. Jangan sampai syahwat politik membutakan hati dan membui nurani kemanusiaan kita. Bagi saya, Siti adalah ujian kepedulian kita pada sesama. Terserah orang lain mau menilai apa.”

  1. Yth,Bung.Rano Karno (Gubernur Banten) mohon maaf bung…sy pernah melintas di daerah abtara Kerta dan Malingping ketemu iring iringan kendaraan bung Gubernur mengarah ke Malingping konon katanya bung Rano menuju desa Sawarna..wow tumben gak pake helicopter….tapi sy apresiasi dan salut melihatnya dgn lewat darat bung Rano lebih bisa melihat kondisi sosial masyarakat dan infrastruktur jalan dan jembatan antara Saketi – malingping sekali kali mampirlah berdialog dgn warga bung Rano pasti tau apa yg diinginkan warga dari tatap muka dan berdialog langsung gak usah formil krn kalo formil biasanya ada skenario utk akting ya..sekedar lempengin pinggang duduk di mobil ber jam2 biasa bung resiko amanat rakyat….sy sering bolak balik Tangsel -Malingping sekedar mencari suasana baru piknik keluarga ya..paling mancing di Binuangeun atau ke Bayah ,daerah ini potensi lho bung…kalo kita serius benahi apalagi jalan yg mulus sdh mendukung sy sdh hafal jalan dan belokan mapun lobang2 jalan rusa…..tapi syukur puji Tuhan era pimpinan bung Rano jalan Saketi-Malingping dr tahun kemarin lancar tenan mulus dan jujur itu kata warga lho bukan cuma kata sy..mereka puas karena jalan dan jembatan sdh pada bagus katanya ,itulah makanya sy menulis ini biar bung Rano tau “kata warga”. suer..!! bung bisa dibuktikan
    sy khan suka mampir makan bakso ikan.”CEU BAI” di desa Polotot dekat pasar.Malingping
    tempatnya rame dan memang baksonya juga enak..katanya sich binaan Dinas Perikanan dan Kelautan Kab.Lebak baksonya bisa jadi khas oleh2 Malingping lumayan ya..selain gula aren boleh di coba bung ! mampir tempatnya lumayan bersih, ya.
    sambil mampir sekedar.lepas penat apa salahnya sambil nge-Bakso ngobrol ngadul ngidul ngopi biasalah…sekedar mampir sebelum pulang…..gimana bung Rano kalau ke Malingping mampir ya jgn lupa ngajak sy dan sy fans lho dgn bung Rano maaf bukan karena bung Rano pernak jadi aktor tapi karena bung Rano jadi Gubernur sy doakan dan kami sekeluarga memilih bung Rano semoga tetap pimpin Banten ya…SALAM 2 JARI…RANO dan EMBAY.

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>