Oleh Rano Karno

“Tuhanku

Di Pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling”

Chairil Anwar

Inilah sebuah petilasan sejarah yang kita ikuti jejaknya hingga di hari sekarang. Seorang kekasih Tuhan yang mulia—bapak monotheisme yang namanya menyejarah sejak lama hingga di hari-hari sekarang. Penempuhannya dapat kita temukan dalam pengajaran agama-agama Samawi melalui Torah, Perjanjian Lama Injil, dan—terutama, Al Quran.

Bermula dari keraguan, dan ia mencari jalan menemukan Tuhan. Bingung dan bimbang telah menuntun Ibrahim pada iman. Rasionalitasnya bekerja mendahului zaman. Ia membangun skeptisme—menciptakan sejenis pembangkangan terhadap apa yang dianggap sebagai tradisi yang turun temurun diwariskan. Nalarnya kritis, tak bisa dihadang.

Ia mengogahi bintang, purnama, dan surya sebagai tuhan. Ia tak percaya pada berhala yang dipuja—dan serta merta memorakporandakan patung-patung besar yang tak berdaya. Namrud yang marah menjatuhinya hukuman yang garang. Ibrahim hendak dibakar di depan khalayak. Melalui kitab suci, kita tahu: Ibrahim selamat—atau tepatnya, diselamatkan. Panas dari api yang menerjang itu mendadak lumat.

Dari Bapak Ibrahim, kita akhirnya mengerti: jalan Islam mengajak kita pada tauhid. Seraya dengan itu, kita digerakkan untuk menyangkal semua upaya mempersekutukan Ia Yang Ahad. Jalan keselamatan itu terletak pada kesediaan untuk berserah diri di hadapan Yang Maha Suci. Alam pikiran kita diminta untuk merendahkan hati di haribaan Yang Maha Tinggi.

Dengan cara seperti itulah, kita bisa mengerti apa artinya cinta dan ikhlas. Segala yang tergenggam di tangan bukan milik sendiri. Semuanya, sekadar jalan untuk mengabdi. Sebuah ikhtiar yang tak mengenal rehat untuk merapat dan mendekat. Taqarub pada Yang Maha Tinggi.

Hingga tibalah pada sebuah ketika. Seorang ayah yang berbilang waktu merindu datangnya anak dalam keluarga, harus menerima sebilah titah. Tuhan mengirimkan ilham agar Ibrahim menyembelih anak yang lahir dari rahim Hajar, sang isteri.

Ibrahim, memang seorang nabi—juga tokoh besar dalam kitab suci. Tapi, ia juga manusia. Bukan malaikat. Seorang lelaki biasa yang beranjak tua. Sebagaimana kita, ia juga mungkin gentar. Kita bisa memaklumkan kalau ia berlinang. Kitab yang agung tak menjelaskan lebih dalam. Tapi, mari sejenak membayangkan. Sanggupkah, seandainya perintah itu ditimpakan ke atas pundak kita yang rapuh?

Barangkali, kita akan dengan mudah gontai. Lutut kita gemetar hebat hingga tak sanggup tegak. Keimanan yang teguh tengah diuji hingga sejauh mana tak akan luruh. Kita bisa kehilangan apa saja—mengorbankan segala yang tergenggam. Termasuk, mewakafkan diri sendiri untuk kebesaran Ad Diin. Tapi, sanggupkah kita, menyembelih anak sendiri?

Kitab suci telah menyuguhkan cerita luhur itu—sebuah epik yang menakjubkan. Kita menemukan ketegaran—juga, kesabaran. Ujian yang tak mudah. Ayah dan anak itu dipertautkan oleh keimanan yang tak goyah. Ibrahim meletakkan pelipis Ismail di atas sebongkah batu. Alam yang hening tak bersuara ikut menyaksikan adegan yang mencekam di hari itu. Pisau yang telah diasah meluncur ke batang leher sang anak yang terdiam menahan napas. Dan, Allah mengakhirkan kisah itu dengan mengganti tubuh Ismail dengan seekor sembelihan lain berukuran besar. Allahu Akbar.

Sejarah kurban adalah sejarah tentang pengabdian tak bertepi pada Ia Yang Menguasai jagad. Berserah diri dalam epik yang memikat dari kisah Ibrahim ini memafhumkan: kita bukan pemilik kehidupan. Ada Tuhan yang mengendalikan segala perihal, menguasai semua yang terbentang. Qurban yang kita persembahkan di hadapan Tuhan setiap tahun hendak mengetengahkan cerita tentang penghambaan penuh setiap makhluk di dunia yang profan—dunia yang fana. Sekaligus pada waktu yang sama, kita diajak untuk mengarahkan pandangan pada mereka hidup di tepi. Kita diajarkan untuk mengerti artinya berbagi—bukan memonopoli, kebahagiaan.

Bapak Ibrahim mewariskan keteladanan yang memikat. Kita bertakbir, bertahmid, dan bertahlil. Dalam rendah hati dan suara berbisik. Kita mengarahkan pandangan pada Al Quddus. Dan kita akan semakin mengerti: sekali hati terpagut, kita tak ingin terpisah lagi. Sebagaimana Chairil. Di Pintu-Mu aku mengetuk. Aku tidak bisa berpaling.

Kita hanya sebutir debu. Dalam sebuah rentang menuju Tuhan.

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>