Tahun Baru Islam 1 Muharram 1438HOleh Rano Karno

Sebuah tahun yang baru telah datang menyapu yang lampau. Dan ingatan kita berangsur-angsur mengingat cerita lama ketika seorang lelaki mulia memutuskan hijrah ke sebuah kota baru yang ramah. Inilah kisah dengan seunggun hikmah terpendam yang tak habis dikupas zaman.

Apa yang sesungguhnya terjadi?

Mekkah adalah kota kelahiran sang Nabi. Di sana juga terletak Ka’bah—sebuah lokus bagi ibadah yang ditunai lima waktu sehari. Ada jejak dan keteladanan Ibrahim yang diwariskan hingga kini di sana. Tentang tauhid—dan ketangguhan hati untuk menegakkan aqidah yang tak boleh bengkok. Cintanya membludak.

Kelak. Setelah mendiami Madinah, Nabi acap mendesiskan kerinduan pada tanah kelahiran. Juga pada Khadijah, Abu Thalib, dan semua sahabat yang menjadi benteng saat dakwah masih disyiarkan dalam sunyi senyap.

Menghadapi tekanan yang tak mudah, sebuah langkah mesti ditempuh. Bukan untuk pergi—ataupun lari dari gelanggang yang ganas. Tapi justru, kelak, untuk kembali membawa damai, menawarkan perlindungan, dan memberi arti. Migrasi atau hijrah, telah diputuskan. Nabi pergi seraya menggenggam sepotong asa: sebuah kehidupan baru yang lebih baik bagi tegaknya kemanusiaan dan nilai-nilai kehidupan.

Hijrah, dalam peristiwa ketika itu, bukan sekadar perjalanan meninggalkan sebuah tempat yang lama menuju sebuah hunian yang baru. Di sana terangkum pesan yang terasa amat gamblang tentang tekad yang membatu, ikhtiar yang membabi buta, kehendak mengirimkan kabar gembira, dan keinginan bertalu-talu untuk menyebar ajaran ke semua sudut dunia.

Maka, inilah salah satu momentum paling penting dalam sejarah peradaban Islam. 1 Muharam bukan sekadar perayaan tanpa pesan. Melainkan, peristiwa yang terus menerus melahirkan hikmah dan kemafhuman bagi kehidupan. Migrasi atau hijrah, pada akhirnya, adalah sejenis pembeda yang tegas antara yang silam dengan yang akan datang. Sebuah upaya keras meninggalkan yang muram menuju sebuah dunia yang terang benderang. Menanggalkan ketidakpatutan—seraya dengan itu, dengan keras hati menapaki jalan yang luhung bagi kehidupan.

Dalam peristiwa puncak itulah, Baginda yang agung mengajak kita pada sebuah dunia yang kosmopolit—tempat di mana kemajemukan dirayakan dengan penuh rasa syukur. Nabi mengajak kita membentuk sebuah ruang hidup bersama di mana keanekaan disambut dengan gegap gempita. Anshar dan muhajirin saling membantu, perbedaan antarpuak tak menjadi ancaman, dan sentimen ashobiyah/primordialisme tumbang oleh cinta dan persaudaraan yang luhur. Pribumi dan nonpribumi menjadi terminologi yang tak pernah dikenal dalam petilasan sejarah peradaban Islam.

Peristiwa historis inilah yang kemudian hari ditapaktilasi oleh para leluhur yang hidup pada kurun waktu yang lampau di tanah Banten. Terlahir sebagai putera dari Syaikh Syarif Hidayatullah—dikenal sebagai Sunan Gunung Jati dari Cierbon—Sultan Maulana Hasanudin membangun kesultanan yang catatan kejayaannya terekam hingga di hari ini. Perdagangan berlangsung seiring dengan interaksi budaya yang melibatkan banyak pihak—jauh sebelum Batavia berkembang. Di halaman Masjid Agung Banten berdiri tegak sebuah menara yang kini didaulat sebagai simbol kultural bagi warga Banten. Nama Cek Ban Cut, tertera sebagai arsiteknya.

Maka, bagaimana kita memberi rumus dan makna pada Banten—sebuah wilayah di mana cinta kita labuhkan?

Arus besar migrasi dan hijrah banyak bermuara di sini. Identitas dari banyak budaya bertemu dan bergumul menemukan bentuknya yang baru. Tapi, dia tak mengenal akhir. Menjadi Banten—adalah juga sebuah proses menjadi Indonesia. Sebuah keinginan yang lahir dari cita-cita bersama membentuk masyarakat madani yang memiliki keadabannya sendiri. Kita desiskan keinginan itu tanpa pernah henti.

Maka, sebuah tahun yang baru datang, dan kelak akan pergi. Ruas-ruas masa akan terus bertambah dan mengendap seiring berjalannya waktu. Banten, secara administratif sebagai provinsi, telah menginjak usianya yang ke-16. Dua windu penempuhan dan kita memilih untuk tidak berhenti di sini. Banten—sebagai peradaban yang hadir di ujung Barat pulau Jawa, berusia amat tua. Kejayaan ditoreh, dan kita ingin kedigdayaan itu tidak hanya hidup dalam kenangan di waktu silam. Kita menumpuk bongkahan-bongkahan peradaban yang terserak itu untuk kebangkitan (kembali). Kita tak ingin kemajuan dan kesejahteraan itu hanya bisa dinikmati secara terbatas. Kesenjangan mesti cepat-cepat diakhiri. Sekalipun kesabaran revolusioner—istilah yang pernah dipopulerkan Eep Saefulloh Fatah—mutlak kita perlukan untuk mengejawantahkan cita-cita sebesar itu.

Hijrah adalah sebuah proses tak mengenal henti. Menjadi lebih baik—meninggalkan yang buruk di masa lalu. Kali ini, bukan seberapa tebal bilangan waktu yang telah kita lewat dan kita miliki. Tapi soal seberapa tebal bilangan kesadaran yang terhimpun mendiami benak dan pikiran kita.

Pada akhirnya. Selamat tahun baru 1 Muharam 1438 Hijriah. Selamat Hari Jadi ke-16 Provinsi Banten. Semoga Allah menaburkan rahmat-Nya untuk kita semua.

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>