Oleh Rano Karno, S.I.P

Di tanah kelahirannya sendiri, demokrasi digugat. Lelaki yang konon buruk rupa itu mencurigai demokrasi sebagai alat bagi para oportunis dan medioker naik ke atas panggung. Mereka yang gemar mencemooh, menghina, memfitnah—seolah mendapat tempat yang mulia di sana.

Sokrates. Lahir dan tumbuh besar pada 5 abad sebelum Masehi. Dari Athena, Yunani, ia menahan degup jantungnya melihat demokrasi yang membebaskan orang bicara apa saja. Sebuah eksperimen tengah dicoba. Dan Sokrates menggugat dan menyoal demokrasi yang masih berusia amat belia. Ia melihat ancaman besar tersembunyi. “Di alam demokrasi”, kata Sokrates, “Keledai pun tak lagi mau minggir ketika berpapasan dengan manusia.”

Di hari-hari ini, perlukah kita ikut menyesali demokrasi?

Kebebasan, memang, bisa membuat banyak perihal jadi telanjang. Banyak yang merasa sah mengumpat, tapi lupa berkaca diri. Tak sedikit yang menjerit nyaring, tapi lupa apa artinya tahu diri. Maka, kita tak benar-benar tahu apa kata Sokrates bila masih hidup di hari ini.

Demokrasi dan teknologi. Sebuah ruang besar yang tak terbayangkan. Media sosial jadi sarana bagi celoteh gaduh yang menggelikan. Di sana—meski tak banyak, kita menemukan orang yang mengerti apa artinya harkat. Sekaligus sebaliknya, juga banyak orang kehilangan martabat. Diam-diam terselip hasut. Ada kalanya, manusia kehilangan harga diri demi mengais rupiah yang diperjuangkan untuk kepentingan yang tak patut. Marwah dan kehormatan tak lagi dianggap penting dan relevan. Ikhtiar membangun dan merawat kepentingan khalayak untuk kurun waktu yang panjang bisa dengan mudah terkapar oleh segelintir orang yang tak sanggup menangguh rasa lapar.

Demikianlah, Quran dalam Al Baqarah mengetengahkan ilustrasi yang tajam mengena. “Dan bila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi’. Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan’. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadarinya.” (QS 2 : 11-12).

Maka, kita sepertinya perlu berhenti sejenak—demi sepotong interupsi dan kontemplasi. Kita bisa menduga-duga: Seandainya Socrates hidup kembali di hari ini, maka ia mungkin akan mencak-mencak tak ubahnya terompet tua yang serak. Socrates, sedianya, tak ingin membungkam gelombang suara kritis yang tengah menyelimuti kepala banyak pihak. Tokh, Socrates sendiri dikenal sebagai si tua yang skeptis dan menolak diam. Ia bahkan divonis mati akibat lancang dan terlalu berani mempertanyakan banyak soal.

Dari sana, kita menemukan beda. Ada hirup pikuk yang tak mengandung makna dan pesan lantaran hanya membawa fitnah, hasut, dengki, dan dendam. Dan demokrasi, barangkali, memang memberi tempat bagi suara muram, pikiran sumbang, pertengkaran, dan hal-hal demikian. Di sini, kita menjumpai tantangan yang tak gampang. Lantaran, semestinya, kualitas demorasi yang baik bukan sekadar menyuguhkan kebisingan. Tapi juga keadaban, pekerti luhur, dan tingkah yang luhung.

Lantas, bagaimana fitnah, kedengkian, dan laku hasut bisa dibiarkan? Bagaimana bisa kelakuan zhalim mendapat tempat dan dibiarkan mangkrak?

Kita menganut Rechtstaat—negara yang menjunjung hukum setinggi langit. Hukum hadir bukan untuk membatasi kebebasan. Tapi sebaliknya, menjamin agar kebebasan seseorang tak melanggar kebebasan milik yang lain. Di situ kita mengerti artinya limit dan tahu bagaimana bertenggang.

Tapi, ada satu hal yang lebih dalam. Islam mengajarkan sebongkah keyakinan, doa seseorang yang terzhalimi tak memiliki tabir dan batas. Doanya mustajab, mudah dikabulkan. Inilah cerita Saad bin Abi Waqas yang menjadi Gubernur Kufah pada era Khalifah Umar yang diridhoi Allah.

Seorang lelaki bernama Usamah bin Qatadah meniupkan fitnah dan hasut untuk Saad. “Sekiranya kau bertanya tentang Saad,” tutur Usamah, ”Sesungguhnya ia tidak pernah ikut dalam peperangan, tidak menyamaratakan pemberian, dan tidak berlaku adil dalam menegakkan hukuman.” Sebuah tuduhan serius diluncurkan. Dan Saad mendesiskan doa untuk Rabb yang menguasai jagad, “Ya Allah, sekiranya ia berbohong, maka hendaklah engkau panjangkan usianya, kekalkan kefaqirannya, dan timpakan kepadanya fitnah di sisa usianya.”

Maka, Allah kabulkan doa Saad. Usamah berusia panjang, tapi hidup terbenam dalam kemiskinan. Di usianya yang uzur, ia dikenal gemar mengganggu wanita-wanita yang lewat. Fitnah yang kelewat berat. “Aku telah tertimpa bencana akibat doa Saad.” ucap Usamah, suatu kali.

Demokrasi, dan sepertinya kita semua masih terbata-bata mengejanya dengan benar. Ruang yang bebas—tapi tak hampa. Di sana ada hikmah. Di sana juga terhimpun kezhaliman dan fitnah. Kita berhak memilih yang luhur atau yang hina—yang luhung atau yang sarat dosa.

Sementara itu, kita pun tahu. Saat tiba waktunya lelap di malam gelap, doa seorang yang terzhalimi tak akan pernah ikut tenggelam tidur. Ia akan tetap hidup dan memburu yang zhalim. Dan lalim. Memburu penabur dusta dan kebohongan. Menghantui mereka yang mencari nafkah dari menyebar kebencian.

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>