img-20160809-wa0085

Di suatu siang yang sejuk, di daerah Cinere, Dewi Indriati sibuk menerima warga yang ingin bersalaman dengan suaminya, Rano Karno. Setiap lebaran, Rano Karno dan Dewi Indriati open house. Apalagi setelah jadi Gubernur Banten pada Agustus 2015, open house seperti kewajiban.Di sela-sela kesibukan open house, Koran Rumah Dunia dot com mewawancarai kisah cintanya dengan Rano Karno. Cerita bermula pada tahun 1987, saat Dewi Indriati harus masuk meja operasi di RS Titi Murni, Kramat Raya, Jakarta. Usus buntunya bermasalah. Tiba-tiba Rano Karno, teman seangkatan di SMAN 6 Bulungan datang menengok.

“Wah, sialan! Gua dikerjain!” kata Rano.
“Dikerjain kenapa? Sama siapa?”
“Temen-temen bilang, ‘Dewi Bulu mau mati, tuh! Tengokin dia! Lu punya dosa ama dia! Taunya lu usus buntu doang!” Rano tertawa.
Dewi mengenang peristiwa itu dengan indah. Rano memang memanggilnya dengan “Dewi Bulu”, karena bulu di tangannya banyak banget. Mereka satu angkatan, tapi beda kelas. “Cinta sejati saya kepada Rano bersemi lagi. Tapi, saat itu Rano lecek banget. Nggak seperti artis, yang biasanya glamour. Rano emang sederhana banget,” cerita Dewi.

Dewi meledek Rano, “Wah, artis kok lecek banget! Kumel!”
“Nggak ada yang ngurusin!” jawab Rano waktu itu.
“Alah, lu sih tinggal nunjuk!” Dewi memancing.
“Lu mau nggak ngurusin gue!” Rano serius.
“Gila lu!” Dewi kaget.
“Bener, serius gue!”

Setelah pertemuan itu, Dewi dan Rano pacaran. Rano masih main di beberapa film tahun itu, yaitu “Arini, Masih Ada Kereta yang Akan Lewat” disutradarai Sophan Sophian, “Macan Kampus” oleh Adi Surya Abdi, dan “Bilur-bilur Penyesalan” bersama Nasri Cheppy. Tentu film “Arini” yang membekas di hati Dewi dan Rano saat itu.
Setahun pacaran, Dewi dan Rano mulai berpikir untuk membangun rumah tangga. Saat itu Rano sedang terpuruk, karena perceraian dengan istri pertama dan kepergian ayahnya. “Cinta saya kepada Rano, jujur saja, penuh pengorbanan, keikhlasan dan kekuatan. Itu luar biasa bagi spirit hidup kami berdua. Alhamdulillah, pelan-pelan, Rano bisa melupakan perceraian dan kepergian ayahnya,” kisah Dewi.

Suatu malam Dewi dan Rano baru nonton film di Djakarta Theatre. Dewi kaget, karena Rano main tembak saja, “Gue ngelamar, ya! Kita nikah!”

“Kapan mau ngelamar?” Dewi menantang.
“Malam ini!”
“Gila lu!”
“Serius!”

Kata Dewi, Rano serius melamar Dewi. “Malam itu juga kepada orang tua saya, Rano melamar! Alhamdulillah, setelah setahun pacaran, saya dengan Rano menikah 8 Februari 1988. Kehidupan rumah tangga kami seperti di lautan; perahu kami terhempas gelombang, tapi terus berlayar lagi. Film nasional juga sedang goncang, karena mulai muncul era TV swasta. Ada 2 film yang Rano tahun itu, pertama ‘Dia Bukan Bayiku’ bersama Hasmanan dan ‘Arini II’, kali ini dengan Wim Umboh,” Dewi megisahkan hidupnya bersama Rano.

Sumber

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>