IMG-20160802-WA0009

Oleh  H. Rano Karno, S.I.P

Dari sebuah jazirah yang tandus belasan abad yang lalu. Kalam turun melalui Jibril mengusung sepenggal sumpah. Demi matahari dan cahaya (yang menyertai)-nya di hari pagi. Demi rembulan, apabila ia mengiringi. (QS Asy Syams: 1-2).

Tuhan bersumpah, dengan nama dua makhluk-Nya. Matahari dan bulan beredar pada orbitnya—membentuk lintasan zaman yang memandu hidup manusia. Mengenal ruas-ruas waktu, menyusun dan memperhitungkan musim yang akan tiba. Tuhan bersumpah dengan seunggun pesan. Kita menghayati. Dan, menimba hikmah. Nyaris tanpa interupsi.

Setiap fajar bertandang, kita tahu matahari tengah menepati janji: hadir setiap pagi. Lembayung di ufuk timur menjadi sejenis penanda—menggeser malam yang perlahan-lahan menyirna. Mentari lambat laun merangkak—dalam senyap. Tanpa gaduh dan hiruk pikuk yang memekakkan telinga.

Pun demikian dengan rembulan. Yang meniti gulita malam hanya berteman sunyi. Tanpa bising dan berisik yang berarti. Keduanya mengetengahkan cerita soliter—cerita tentang penyendiri yang menolak berhenti. Yang menampik sorak sorai penggembira. Yang mengogahi puja-puji dari mereka yang terkesima.

Saya menjumpainya kemarin.

Nama lengkapnya, Muhammad Arif Kirdiat. Sudah kerap namanya diucap orang banyak. Tak mudah menemuinya hilir mudik di tengah kota. Sebagai seorang sarjana, agaknya ia adalah pribadi yang mengerti apa artinya membangun dari desa.  Ia menyusuri setapak yang tak mudah, demi menemukan jembatan-jembatan koyak yang keropos digerus waktu.

Jembatan yang usang bukan lagi cerita baru. Saat anak-anak yang bergelantungan dan sebagiannya tergelincir ke dalam sungai—tebersit ironi yang menyesakkan sudut benak bagi sebuah wilayah yang disebut sebagai penyangga ibu kota. Banyak yang muntab, mengumbar amarah, dan menyemburkan kata-kata. Media sosial menjadi ajang untuk membentuk kegemparan. Episentrumnya datang dari sudut-sudut pedesaan di wilayah kidul yang seolah-olah tidak terjamah.

Dan kita tahu, Arif tidak memilih diam. Yang mengenalnya juga tahu, ia memang lelaki yang tak banyak cakap. Ia tidak menyimpan kegemaran menyalahkan orang. Dalam sunyi senyap ia memanggil dan menyentuh sisi kemanusiaan setiap kita. Solidaritas ditabuhnya bertalu-talu.

Dan pada mereka yang terpanggil, ia hanya menegaskan: jembatan di sudut-sudut kampung bukan sekadar penghubung dari tepian ke tepian yang lain. Jembatan, bagi Arif, adalah cerita menggunung tentang harapan yang haram punah. Harapan itu, juga cerita tentang sumpah para orang tua yang mendambakan anak-anaknya duduk di bangku sekolah. Dan harapan itu, terutama, adalah cerita kesetiaan yang membabi buta dari anak-anak desa pada masa depan yang menggelora.

Di sudut-sudut kampung—meski mungkin tak diniatkannya  secara sengaja, Arif sekaligus mengajarkan apa artinya martabat, kehormatan, dan harga diri. Lelaki muda itu mengirim ajakan pada sekitar untuk berdiri di atas kaki sendiri, menyusun rencana dan langkah, serta membangun usaha sendiri dengan modal yang ada.

Sementara itu, pada satu acara buka puasa bersama di Ramadhan yang lalu saya mengabarkan cerita untuknya. Ruas jalan dari Serang hingga Panimbang telah dicanangkan. Semoga Allah memudahkan—tahun 2018 sudah bisa digunakan. Saya serta merta membayangkan warga yang selama ini tak gampang mengakses jalan bisa lebih berdaya di waktu-waktu yang akan datang. Kita semua tentu mendambakan Arif-Arif baru muncul dan menduplikasi peran serupa untuk kepentingan warga di banyak tempat.

Kemarin Arif bertandang. Ia tak sendiri. Ada tak kurang dua puluh lima relawan dari berbagai negara ikut menemani. Dia bersama teman-temannya, masih sama. Seperti yang sudah bisa diduga, Arif dengan perawakannya yang tinggi itu masih terus saja ingin berbuat. Ia merawat kepedulian dan harapan. Di kedalaman hatinya, saya percaya—meski jarang diucapkan, ia menyimpan kecintaan yang mendalam. Pada Banten. Pada Indonesia. Pada rakyatnya. Pada kemanusiaan.

Muhammad Arif Kirdiat. Telah belajar banyak. Dari matahari dan rembulan.

Radar Banten, Selasa, 2 Agustus 2016

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>